• Fri. Dec 4th, 2020

Timhore – Faktanya, banyak pengguna internet yang sering kali melakukan pencarian di google ataupun mesin pencari lainnya. Di antaranya ialah  “ Apa itu suicidal behavior” atau apa itu perilaku bunuh diri”

Suicidal behavior adalah perilaku yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya (bunuh diri), misalnya dengan sengaja mengkonsumsi obat-obatan hingga overdosis atau bahkan menyakiti/ melukai diri sendiri dengan benda tajam ataupun media lainnya.

Perlu dipahami bahwa keinginan bunuh diri ini tidak bisa dikategorikan sebagian gangguan mental, tetapi ini adalah konsekuensi yang sangat serius dari seseorang yang mengalami gangguan mental. Seperti contohnya ialah; seseorang yang memiliki gangguan bipolar, gangguan kecemasan, depresi mayor, skizofrenia, atau bahkan gangguan makan seperti anorexia dan bulimia.

Berikut ini adalah tanda-tanda peringatan munculnya perilaku bunuh diri :

1. Kesedihan atau kemurungan yang berlebihan, perubahan suasana hati yang ekstrim, dan amarah yang tidak terduga.

2. Keputus asaan, tidak melihat adanya sedikit harapan bahwa keadaan dapat membaik.

3. Sulit tidur (insomnia).

4. Tiba-tiba menjadi tenang setelah merasa sangat sedih dan depresi bisa menjadi tanda bahwa orang tersebut telah membuat keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

5. Menarik diri, memilih untuk menyendiri dan menghindari keluarga, teman dan kegiatan sosial juga merupakan gejala depresi.  Hilangnya minat dalam kegiatan yang sering dinikmati orang.

6. Perubahan kepribadian atau penampilan, seperti berbicara atau bergerak dengan kecepatan atau kelambatan yang tidak biasa. Selain itu, orang tersebut mungkin tiba-tiba menjadi kurang peduli tentang penampilan pribadinya.

7. Perilaku berbahaya atau yang berpotensi berbahaya, seperti mengemudi dengan kecepatan tinggi, meningkatnya penggunaan obat-obatan terlarang atau alkohol. Ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak lagi menghargai hidupnya.

8. Trauma atau krisis kehidupan yang baru saja terjadi, misalnya Kematian orang yang dicintai secara mendadak, perceraian atau putusnya suatu hubungan, diagnosis penyakit besar, kehilangan pekerjaan, atau masalah keuangan yang serius.

9. Membuat persiapan, seperti seseorang yang mempertimbangkan bunuh diri akan mulai menata bisnis pribadinya.  Orang tersebut juga mulai mengunjungi teman dan anggota keluarga, memberikan barang-barang pribadi, membuat surat wasiat, dan membersihkan kamar atau rumahnya.  Beberapa orang akan menulis catatan sebelum bunuh diri.  Beberapa akan membeli senjata api atau cara lain seperti racun.

10. Mengancam atau berbicara tentang bunuh diri. Beberapa dari mereka yang mempertimbangkan bunuh diri akan memberikan tanda peringatan kepada orang terdekat, mungkin keluarga atau teman.  Namun, tidak semua orang yang mempertimbangkan bunuh diri akan mengatakan demikian, dan tidak semua orang yang mengancam akan bunuh diri akan melakukannya. Serta tidak semua kerabat yang telah diberikan tanda peringatan bunuh diri ini menyadarinya.

Setiap ancaman bunuh diri tetaplah harus ditanggapi dengan serius.

Lalu, siapa yang paling beresiko memiliki perilaku bunuh diri?

Penelitian yang bersumber dari kajian mengenai kasus bunuh diri di seluruh dunia mengambil kesimpulan bahwa angka bunuh diri yang paling tinggi terjadi pada usia remaja, dewasa muda (20-30tahun) dan juga lansia.

Resiko bunuh diri juga lebih tinggi pada kelompok berikut:

1. Orang tua yang kehilangan pasangan karena kematian atau perceraian.

2. Orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri di masa lalu.

3. Orang dengan riwayat keluarga bunuh diri.

4. Orang yang memiliki teman atau rekan kerja yang bunuh diri.

5. Orang dengan riwayat pelecehan fisik, emosional, atau seksual.

6. Orang yang belum menikah, merasa tidak memiliki keterampilan dan pengangguran.

7. Orang dengan rasa sakit jangka panjang atau penyakit yang melumpuhkan.

8. Orang yang rentan terhadap perilaku kekerasan atau impulsif (cenderung bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya).

9. Orang yang baru saja dibebaskan dari rawat inap psikiatri dengan riwayat gangguan mental.

10. Orang-orang dalam profesi tertentu, seperti petugas polisi yang harus mengeksekusi mati terdakwa dan penyedia layanan kesehatan yang bekerja dengan pasien yang sakit parah.

11. Orang dengan masalah penyalahgunaan obat-obat terlarang.

Penelitian pun menyimpulkan bahwa wanita tiga kali lebih rentan untuk mencoba melakukan bunuh diri, tetapi pria jauh lebih mungkin untuk menyelesaikan tindakan tersebut.

Bisakah perilaku bunuh diri ini dicegah?

Penelitian menunjukkan bahwa cara terbaik untuk mencegah bunuh diri adalah dengan mengetahui faktor-faktor risiko, waspada terhadap tanda-tanda depresi dan gangguan mental lainnya, mengenali tanda-tanda peringatan untuk bunuh diri, dan turut campur tangan sebelum orang tersebut melakukan tindakannya.

Apa yang bisa kita lakukan jika kita berpikir seseorang memiliki perilaku bunuh diri?

Orang-orang yang menerima dukungan dari keluarga, teman dan yang memiliki akses ke layanan kesehatan mental lebih kecil kemungkinannya untuk bertindak berdasarkan dorongan untuk bunuh diri daripada mereka yang merasa seorang diri.

– Jangan takut untuk bertanya apakah dia depresi atau berpikir untuk bunuh diri.

– Tanyakan apakah dia pernah konsultasi ke terapis atau minum obat penenang.

– Berikan pemahaman mengenai depresi itu bersifat sementara dan dapat diobati dan ajak berbicara tentang permasalahan yang dihadapi. Hindari untuk memberikan “ceramah” tentang bunuh diri.

– Beberapa orang dengan perilaku bunuh diri hanya perlu tahu bahwa seseorang peduli dan sedang berusaha untuk membantunya.

– Mencoba sebaik mungkin untuk menenangkannya dan tetaplah bersamanya. Hindari memberikan label, berdebat atau menghakimi setiap perbuatannya.

– Jika dirasa perilakunya semakin tidak terkendali, segera hubungi tenaga medis yang berhubungan dengan kejiwaan.

Bagaimana jika ternyata saya memiliki perilaku bunuh diri?

Tidak perlu khawatir, dengan kamu membaca artikel ini kamu sedang berada dalam tahap memperbaiki keadaanmu.

Beberapa hal yang perlu dilakukan :

1. Tenangkan pikiranmu dengan melakukan relaksasi. Pejamkan mata, dengarkan lantunan musik instrumental dan ucapkan perlahan untuk dirimu kalimat-kalimat positif, contohnya “Saya lebih hebat dari masalah ini.”,”masalah ini hanya sementara, saya bisa melaluinya.”

2.  Cobalah untuk menangani dan menghadapi permasalahanmu satu per satu. Jika memungkinkan, tulis permasalahan tersebut beserta ekspresi negatif yang kamu rasakan. Pahamilah bahwa kehidupan selalu berputar seperti roda, begitupula dengan perasaan negatif yang sangat bisa berubah menjadi perasaan positif.

3.  Carilah kerabat terdekat, bisa keluarga atau teman untuk membantu menyelesaikan masalahmu.

4. Jika mungkin merasa tidak yakin untuk menceritakan kepada orang terdekat, segeralah mencari tenaga profesional, psikolog atau psikiater.

Percayalah teman, kalian tidak sendiri dalam menghadapi permasalahanmu, masih banyak orang yang peduli dengan dirimu, meskipun pertolongan itu datangnya dari orang yang mungkin tidak kamu duga.

Seberat apapun masalahmu, hadapilah. Itu adalah proses perjalanan hidup yang harus dilalui.

Jika terasa sangat melelahkan, beristirahatlah sejenak bukan mengakhiri hidup yah.

Suatu hari nanti di masa yang akan datang, ketika kamu melihat kembali  masa- masa berat yang kamu alami sekarang, kamu pasti akan merasa bangga dengan dirimu yang telah berhasil menjadi pribadi nyang kuat dan bertahan hingga saat ini.

Jika kamu membutuhkan bantuan / konseling, jangan sungkan untuk segera menghubungi kami. Kami siap mendengarkan semua cerita mu dan memberikan solusi semampu kami.

Kami peduli

BACA JUGA : Memahami Depresi Pada Teman

Editor : Agent M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *