• Fri. Dec 4th, 2020

Timhore – Setiap kejadian didalam hidup kita yang kurang menyenangkan, akan membekas dan sangat berpotensi menjadi trauma. Salah satunya adalah trauma pada korban pelecehan seksual. Korban biasanya akan merasakan malu, cenderung menyalahkan diri sendiri, menarik diri dari lingkungan sekitar bahkan tidak sedikit yang menjadi depresi.

Akibat trauma ini pun, korban akan merasakan sakit kepala, sulit tidur, sulit makan, kurangnya fokus pada apapun yang dikerjakan, hilangnya rasa nyaman dan aman, serangan panik dan lain sebagainya yang pastinya sangat mengganggu. Gejala ini berbeda-beda tergantung penghayatan korban terhadap kejadian yang dialaminya pada masa lalu.

Perlu diketahui juga ada beberapa jenis tindakan yang termasuk didalam pelecehan seksual, yaitu :

1. Berupa sentuhan pada anggota tubuh dengan sengaja.

2. Isyarat, ajakan atau pesan yang menggoda, termasuk cat-calling.

3. Melontarkan lelucon kotor.

4. Memberikan komentar tentang bentuk tubuh sambil menatap dengan menggoda.

5. Menyebarkan rumor tentang keseksian korban, termasuk menyebarkam foto korban yang dinilai seksi.

6. Menyentuh tubuh sendiri di depan korban, seperti seseorang dengan perilaku eksibisionis.

7. Menampilkan gambar, cerita, atau benda seksi kepada korban.

8. Memaksa korban berhubungan seksual.

Jika kalian menemukan orang-orang disekitar yang pernah melakukan ini, cobalah menghentikan dengan perlahan dan memberikan informasi bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah tindak pelecehan. Tindak pelecehan seksual sudah termasuk dalam tindak pidana yang serius dan berdampak serius juga terhadap korbannya. Maka dari itu perlu penanganan yang serius dari setiap pihak yang terkait.

Beberapa cara bisa dilakukan untuk mengatasi trauma pada korban pelecehan seksual, antara lain :

1. Menerima kenyataan.

Ya mungkin ini sulit dan terus bertanya dalam hati, “Kenapa harus saya yang mengalami?”, “Kenapa harus ada yang melakukan pelecehan?” justru menambah amarah dalam diri kita. Tidak ada satupun manusia, wanita maupun pria (walaupun korban terbanyak adalah wanita, tapi tidak menutup kemungkinan pria pun pernah mengalami pelecehan seksual) menginginkan hal itu terjadi.

Maka dari itu, yang pertama harus dilepaskan adalah kemarahan dalam diri korban, termasuk perasaan bersalah. Terbukalah terhadap diri sendiri untuk melepaskan kemarahan atau emosi negatif, dengan cara seperti melakukan yoga, meditasi, olahraga ataupun hobi yang menyenangkan dan menenangkan. Keterbukaan dan penerimaan diri menjadi kunci utama mengatasi trauma ini.

2. Berhenti menyalahkan diri sendiri.

Ingatlah bahwa kejadian ini terjadi bukan karena diri korban, tapi karena pelaku yang tidak bisa menahan dirinya. Kejadian ini terjadi bukan karena korban menggunakan pakaian yang minim (contoh kasus pada wanita), korban dengan pakaian tertutup pun pernah mengalaminya.

3. Bersosialisasi dengan orang terdekat.

Ceritakan kejadian ini kepada orang yang dipercaya, keluarga atau sahabat. Jangan malu untuk menyatakan kegelisahan dan kecemasan akibat trauma tersebut, ini akan menumbuhkan kembali rasa aman dan nyaman yang hilang pasca kejadian.

4. Mencari pertolongan.

Jika dirasa sulit untuk menemukan orang terdekat yang bisa dipercaya, jangan sungkan untuk mencari tenaga profesional, seperti psikolog. Lakukan apapun yang disarankan, termasuk bila harus menjalankan terapi.

5. Lakukan kegiatan sosial.

Mulai kembali pada kegiatan sosial dengan melakukan kebaikan dan berbagi kasih kepada orang membutuhkan dapat meningkatkan kebahagiaan dan perasaan berharga pada diri sendiri.

Tujuan dari setiap cara diatas adalah mengembalikan semangat dalam diri korban. Memang membutuhkan waktu dan kesabaran untuk mengembalikan semangat itu, tapi bukan berarti semangat itu tidak bisa kembali.

Kita tidak pernah bisa mengubah dan mengulah masa lalu, tetapi kita bisa menciptakan masa depan penuh kebahagiaan.

Ingatlah, hidupmu sangat berharga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *