• Fri. Dec 4th, 2020

Timhore –  Sebagian dari kalian mungkin ada yang seringkali mendengar tentang hal ini kan? Istilah Toxic Relationship ini lebih merujuk pada sebuah hubungan/ relationship yang memiliki perilaku- perilaku “beracun” yang merusak fisik maupun emosional dirimu atau pasanganmu. Jika pada hubungan yang sehat didominasi dengan kasih sayang, saling menghormati, saling menjaga, saling menerima, saling peduli, maka toxic relationship adalah sebaliknya.

Seperti yang di lansir dari Health scope, hubungan yang terjadi dalam toxic relationship didominasi oleh perasaan tidak aman, egois, keinginan untuk memegang kendali pasangan, dan sebagainya. Kondisi ini tidak dapat dianggap remeh. Karena dapat mengakibatkan berbagai resiko serius yang terjadi pada pasangan yang terlibat.

Toxic relationship ini tidak hanya ditandai dengan kekerasan fisik saja. Tapi bisa juga dimulai dari kekerasan emosional pada pasangan.

Ciri- ciri Toxic Relationship adalah sebagai berikut :

  • Kurangnya dukungan dari pasangan.
  • Komunikasi yang “beracun” ; termasuk perkataan kasar yang dilontarkan kepada pasangan, kritik, sarkasme, hingga adu mulut.
  • Perasaan cemburu yang berlebihan kepada pasangan (misalnya saja dia bisa sangat cemburu jika melihat pasangan mengobrol dengan temannya, dia sangat cemburu jika melihat pasangan berkirim pesan / chatting dengan temannya, dan sebagainya).
  • Adanya kecenderungan ingin memegang kendali atas hubungan dan kehidupan pasangan (Hal ini membuat pasangan menjadi sulit bersosialisasi, bahkan cenderung menjauh dengan kelompoknya/ pertemanannya).
  • Perasaan benci, stres, dan frustasi yang dialami oleh pasangan.
  • Ketidakjujuran yang terus menerus dilakukan.
  • Tidak adanya rasa hormat pada pasangan, seperti sengaja melupakan hal-hal penting yang berkaitan dengan hubungan.
  • Perilaku keuangan yang negatif, seperti melakukan pengeluaran dalam jumlah besar tanpa berdiskusi dengan pasangan.
  • Salah satu pihak selalu mengikuti kemauan pasangannya sehingga melupakan kesehatan dan kebutuhan diri sendiri.
  • Mati-matian menjaga hubungan agar terhindar dari konflik, karena jika terjadi dapat menyebabkan masalah yang ekstrem.

Lalu, mengapa setiap orang yang mengalami toxic relationship ini sulit keluar dari kondisi/ hubungan tersebut ?

Faktor pertama adalah karena banyaknya waktu yang telah dihabiskan bersama oleh pasangan. Sehingga merasa sayang untuk meninggalkan hubungan ini. Biasanya ini terjadi kepada pasangan yang telah menjalin hubungan cukup lama, berbulan- bulan bahkan bertahun- tahun. Semakin lama dia menjalin hubungan itu, semakin lama pula dia bisa keluar dari kondisi tersebut.

Faktor kedua adalah keinginan untuk menjadi “pahlawan” dalam hubungan ini. Merasa bersalah jika meninggalkan pasangannya itu. Sehingga muncul keinginan untuk menjadi “pahlawan” yang mampu bertahan dalam hubungan toxic relationship ini.

Beberapa orang yang mengalami toxic relationship ini merasa bahwa pasangan akan sulit hidup tanpanya, bahkan membuat dirinya sendiri merasa berat meninggalkan pasangannya itu. Ironisnya, padahal dirinya sendiri lah yang sedang “sekarat” dalam hubungan tersebut.

Faktor ketiga adalah adanya paksaan pada diri sendiri untuk terus mempercayai bahwa hubungan toxic relationship ini merupakan hubungan yang diinginkan. Kondisi ini disebut bias konfirmatori atau kecenderungan seseorang dalam mempercayai informasi berdasarkan dugaan, terlepas dari fakta benar atau salah.

Toxic relationship ini tidak akan bisa sembuh tanpa adanya komitmen pada setiap pasangan.

Jika seseorang merasa dirinya sudah berubah demi hubungan tersebut, bukan berarti pasangannya pun melakukan hal yang sama. Misalnya saja Si A dan si B menjalin hubungan toxic relationship.

Lalu si A bicara akan menjadi pasangan yang baik sehingga tidak akan terjadi lagi toxic relationship. Tapi belum tentu si B ini melakukan hal yang sama seperti A. Tidak ada jaminan jika B tidak akan kembali pada toxic relationship.

Sehingga ada baiknya saling mengomunikasikan permasalahan dalam hubungan bersama-sama. Jika perlu pertimbangkan untuk meminta bantuan dari pihak luar, seperti keluarga atau konselor.

Ini merupakan hal sulit. Namun jika pasanganmu telah melakukan pelecehan fisik atau kekerasan fisik ataupun pelecehan seksual, maka kamu berhak untuk segera tinggalkan hubungan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *