• Fri. Dec 4th, 2020

Apakah belakangan ini kamu sedang mencari artikel yang membahas “insecurity issues” ?

Yuk simak artikel ini yah…

Apakah, ketika kamu melihat diri kamu di cermin, sebutkan apa yang kamu lihat dari dirimu?

Laki-laki yang tegas? Perempuan yang langsing?

Laki-laki pemalu? Perempuan penuh percaya diri?

Gendut? Kurus? Jerawatan? Rambut berkilap?

Lalu, ketika kamu membayangkan diri kamu bersama dengan orang lain, bagaimanakah kamu menilai diri kamu sendiri?

Pendengar yang baik? Susah punya teman?

Susah percaya orang lain? Ga enakan sama orang lain?

Kenapa pacar aku ga seromantis pacarnya?

Nah, cara kamu memandang diri kamu akan menentukan rasa nyaman dan tidaknya kamu dengan diri kamu sendiri dam orang lain.

Bagaimana insecurity issues itu muncul?

Saat ini memang kita hidup di dalam kecanggihan teknologi yang juga memengaruhi perspektif kita tentang kehidupan, yaitu bahwa beberapa orang atau mungkin kebanyakan orang saat ini berfokus pada pencapaian dan pengakuan dari orang lain. Semakin seringnya kita melihat pencapaian orang lain, semakin sering  juga muncul keraguan di dalam diri kita.

Kita juga hidup di sebuah kebiasaan untuk membandingkan, mengevaluasi dan menilai berdasarkan apa yang terjadi saat ini, bukan pada proses yang melatarbelakanginya.

Hal-hal seperti inilah yang akhirnya membuat kita merasa insecure.

Di dalam pikiran kita seringkali muncul kritik untuk diri kita sendiri. Ironisnya, kritik itu dibentuk dari pengalaman saat kita masih kecil. Tanpa kita sadari, kita tumbuh dengan kritikan tersebut dan membentuk pola pikir kita terhadap diri kita dan orang lain.

“Dasar kamu ga berguna!”

“Kakak itu harusnya ngalah sama adik.”

“Anak laki-laki ga boleh cengeng.”

“Kamu pendek sih makanya ga nyampe.”

“Lihat tuh si A, udah cantik, juara  1 terus. Pasti orangtuanya bangga.”

Ini hanyalah sepenggal kalimat yang akhirnya tumbuh dan melekat menjadi kritik untuk diri kita sendiri. Perasaan insecure / tidak aman yang muncul dari tempat yang seharusnya menjadi tempat teraman dalam hidup kita, yaitu keluarga.

Bagaimana dampak dari insecurity issues?

Terkadang, insecure itu sudah muncul di dalam pikiran kita.

“Gimana kalau bos ga suka?”

“Gimana kalau mama marah?”

“Gimana kalau pacar aku ngambek?”

“Kenapa orang lain hidupnya kok enak terus ya, ga pernah susah?”

Berawal dari dalam pikiran, lalu kemudian terwujud dalam tindakan-tindakan kita, seperti menarik diri dari suatu hubungan, tidak percaya diri, marah dan juga iri terhadap orang lain, atau mungkin mengurung diri di kamar, tak jarang juga keinginan mengakhiri hidup pun muncul karena selalu dipenuhi perasaan takut.

Coba bayangkan bagaimana hidup kita jika tidak mendengarkan kritik tersebut dalam pikiran kita. Bayangkan juga seperti apa kenyataan yang sebenarnya terjadi jika kita tidak mendengarkan kritik tersebut.

Pada akhirnya insecurity akan menyerang kita dalam pekerjaan dan ketika memiliki hubungan lawan jenis.

Dalam pekerjaan, misalnya, kita akan merasa terpuruk ketika target tidak tercapai. Ketika melihat teman lain dipromosikan untuk naik jabatan, kita akan merasa semakin tidak percaya diri. Muncul juga penilaian bahwa oranglain tidak berusaha lebih keras dari diri kamu, tetapi berhasil mencapai apa yang kamu harapkan. Terjadi juga saat kesulitan mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, kepercayaan diripun semakin hilang.

Dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, sebagai contoh, terus menerus merasa curiga dengan pasangan, membandingkan dengan mantan atau gebetan sebelumnya, menuntut perhatian yang lebih atau malah menunjukkan perhatian yang berlebih. Tidak jarang akhirnya hubungan pun kandas diterpa insecurity salah satu pasangan.

Jadi, bagaimana mengatasi insecurity issues?

  1. Tuliskan kalimat-kalimat yang pernah diucapkan orang lain yang akhirnya jadi kritik dalam diri kamu.

Misalnya :

“Kamu jelek.”

“Kamu ga bisa apa-apa.”

Kamu akan membaca ini sebagai pandangan orang lain, bukan dari diri kamu.

  • Ungkapkan perasaanmu saat membaca kalimat tersebut, seperti kekecewaanmu, rasa sakit hatimu, bahkan menangispun tidak apa-apa.
  • Ungkapkan diri kamu lewat sudut pandang kamu, bukan orang lain.

Contoh :

Orang lain sering berkata, “Kamu ga bisa apa-apa.”

Menurut aku, “Aku bisa melakukan sesuatu, aku bisa bantu banyak orang. Pekerjaan rumah selalu aku yang melakukannya, itu berarti aku bisa melakukan banyak hal.”

  • Sebutkan dalam hal-hal apa saja insecurity issues ini menghalangi kamu. Dalam pekerjaan? Saat berpacaran? Atau ketika menjadi orangtua? Peristiwa apa yang benar-benar membuatmu merasa insecure?  Ungkapkan atau tuliskan itu semua.
  • Lepaskan kritik itu semua dan mulailah menata pikiranmu yang baru. Semua yang kamu pikirkan, mulailah wujudkan dalam perbuatan. Misalnya, memperbaiki hubungan dengan pasangan, atau merubah kinerja di kantor.

Ini adalah sebuah proses perubahan. Didalam proses selalu membutuhkan kesabaran dan komitmen untuk diri sendiri. Ketika proses itu sudah mulai berjalan, usahakan untuk meneriakan diri kamu yang sebenarnya dalam pikiranmu untuk mengalihkan kritik-kritik yang masih bermunculan.

Lepaskan masa lalu, jadilah pribadi yang kamu inginkan.

Selamat berjuang!

One thought on “Insecurity Issues”
  1. Pas banget baca artikel ini saat kondisi lagi ngerasa insecure.
    Jangan lupa teman teman pejuang insecurity. Join di webinar psikologi tema : Insecurity daftar dan infonya di bit.ly/mulaiceritayuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *