• Sat. Mar 6th, 2021

    Timhore – Ada beberapa orang yang mencari-cari bahkan melakukan pencarian melalui google atau mesin pencari lainnya. “Bagaimana caranya memaafkan?” Apa kamu salah satunya?

    Apa yang terlintas dalam pikiran kalian kalau dengar kata “memaafkan”?

    “Susah banget!”,

    “Gimana mau maafin kalau dia ga minta maaf duluan.”

    “Ngga akan bisalah memaafkan…”

    “Ngga tau gimana caranya memaafkan..”

    Nah ini mungkin sebagian kecil dari respon yang terlintas dipikiran kalian.

    Pengalaman tentang seseorang yang telah menyakitkan, baik sengaja maupun tidak, akan membekas dalam pikiran atau perasaan kita. Pikiran-pikiran tentang kebencian, kemarahan, dan kepahitan ini seringkali berdampak buruk bagi kesehatan kita, baik fisik maupun psikis. Jika kita tahu cara memaafkan, maka kita akan menemukan kedamaian.

    Pertanyaanya, seperti apa sih memaafkan? Tahu darimana kalau kita sudah memaafkan?

    Memaafkan itu adalah sebuah keputusan dan tindakan dari sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan atau menyakitkan yang memunculkan emosi negatif (kemarahan, benci, kepahitan) dalam diri.

    Tindakan berarti ada sebuah aksi yang bergerak, di dalam memaafkan yang bergerak adalah persepsi positif terhadap pengalaman menyakitkan tersebut dan pelaku yang menyakiti. Persepsi positif yang dimiliki korban selalu mengupayakan adanya kedamaian dalam hati, bukan berarti melupakan kejadian, tetapi menyembuhkan luka hatinya.

    Bagaimana caranya?

    1. Keyakinan hati.

    Kumpulkan keyakinan, komitmen dan tekad dalam diri untuk melepaskan semua beban di dalam hati dan pikiran yang menyakitkan. Jika dibutuhkan, tuliskan pada gadget  sebagai wallpaper atau di diary atau di tembok kamarmu yang akan mengingatkan dan menguatkanmu pada komitmen untuk melepaskan semua emosi negatifmu.

    “Time doesn’t heal emotional pain, let yourself to be brave to let go.”

    2. Mengakui dan mengungkapkan perasaan.

    “Saya ga dendam, saya udah ga marah kok, tapi saya ga bisa lagi bertemu sama dia.”

    Apakah yakin dendam dan marah itu tidak ada? Apakah keputusan untuk tidak berteman lagi itu menandakan kamu sudah memaafkan?

    Ini adalah pernyataan yang mengisyaratkan bahwa luka itu belum sembuh dan belum secara penuh mengenali emosinya. Tidak apa mengakui bahwa marah dan dendam itu mungkin masih ada, semakin disangkal semakin rasa sakit itu sulit hilang.

    Akui pada diri kamu kalau kamu sangat tersakiti dan marah terhadap pengalaman di masa lalu tersebut bahkan dengan pelakunya. Ceritakan kepada keluarga, sahabat terdekat atau menulis diary. Ungkapkan tanpa ada yang ditutupi, semuanya. 

    3. Let the past be the past.

    “Mau sampai kapan lu kaya gini?”

    Ya, mau sampai kapan kita diganggu dengan perasaan gelisah, marah bahkan dendam, padahal belum tentu sang pelaku memikirkan perasaan kita yang sudah disakitinya.

    kita tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu atau mengulangnya dan menjadikan lebih baik. Biarkan pengalaman itu menjadi masa lalu yang sudah berlalu, dan saat ini fokuskan pada tanggungjawab kita untuk membahagiakan diri kita sendiri.

    4. Berhenti menyalahkan.

    Menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, atau menyalahkan keadaan tidak akan pernah membuatmu lebih tenang. Justru sebaliknya, rasa sakitmu akan semakin kuat dan akan menjadi identitas dirimu.

    Tenangkan dirimu, sadarilah lagi bahwa itu sudah berlalu dan lihat dirimu saat ini, bagaimana kejadian itu membentuk pribadimu sekarang. Segeralah berubah untuk dirimu di masa depan yang jauh lebih membutuhkanmu.

    5. Maafkan.

    Setiap manusia punya kelemahan dan mungkin melakukan kesalahan. Apa yang dilakukan pelaku kepadamu, mungkin saja sewaktu-waktu kamu yang berlaku demikian. Sikap ini menunjukkan empatimu kepada pelaku dan akhirnya memasuki tahap terakhir bahwa kamu sudah mampu memaafkan masa lalumu, baik kejadiannya maupun pelakunya. Maafkan juga dirimu yang sempat merasa marah dan mungkin malah menyakiti diri sendiri dengan memendamnya. Ya, maafkan segalanya.

    Memaafkan itu adalah sebuah proses, artinya hal ini membutuhkan waktu dan biarkanlah dirimu menikmati proses tersebut.

    Ujung atau hasil dari memaafkan adalah hilangnya rasa sakit bukan melupakan kejadiannya. Jadi ketika kamu sudah bisa menceritakan kejadian tersebut tanpa rasa sakit, berarti kamu sudah memaafkan.

    Memaafkan itu menyembuhkan luka, bukan melupakan luka.” (dr.Jiemi Ardian, Sp.KJ)

    Editor : Agent M

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    error

    Let's share :)

    error: Content is protected !!